|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 09 April 2009 17:30 |
|
The incredible new Chromatophore template features the amazing ability to adapt itself to any color combination you desire, without the need to use an image editor. Chromatophore is completely CSS color controlled, offering you the most flexibility and the easiest customization, allowing you to change the colors of your entire site on the fly in seconds. Chromatophore also comes bundled with a versatile 20 module positions, impressive dynamic javascript module functionality, an assortment of module variations, and a whole slew of preset font configurations. Overview An overview of the key features of this template are as follows: * Joomla 1.0+ compatible * Joomla 1.5 Native version available (Now with 1.5 RokZoom plugin!) * NEW 1.0 & 1.5 Native RocketLauncher now available! - Create your own site just like the demo site with only a few clicks * NEW MooRainbow powered Color Chooser system! * Optional IE6 Warning / Upgrade Notification * The immensely popular RokSlide based tabbed module system * 20 fully collapsible Module Positions * Variety of module variations * Ability to utilise 1, 2, and 3 column layouts * 3 built-in menu options - The exclusive RokMooMenu menu system, Suckerfish, SplitMenu, as well as a module position to use your own custom menu module (Module) * RokZoom Integration - custom slimbox variant built from the ground-up with cool zoom effect and a brand new look * Built-in IE6 PNG fix * W3C XHTML 1.0 Transitional. W3C CSS Valid * Fully compatible IE7, Safari 2, Firefox 1.5+, Opera 9, OmniWeb, Shira, Netscape.(Due the advanced web techniques used in Chromatophore, Internet Explorer 6 support is limited. The template is compatible with IE6 and will function properly, however some of the graphics and visual effects have been reduced.) * Source Adobe Fireworks PNGs included |
|
Last Updated on Friday, 10 April 2009 18:17 |
|
Read more...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 09 April 2009 16:25 |
|
Tak pernah kubayangkan sebelumnya jika suratan takdir membawaku sampai ke kabupaten Ponorogo. Sebuah kabupaten di Jawa Timur yang terkenal sebagai kota santri dan kota Reog. Padahal, ketika aku meninggalkan rumah di Parit Dua Sebantan Besar, Penjuru, Sei-Guntung, tujuanku bulat: ingin mondok di pesantern Yabid di Benteng kecamatan Sei-Batang. Yabid atau Yayasan bin Dahlan adalah pesantren salaf yang didirikan oleh KH. Ibrahim Mansur. Beliau adalah kawan akrab ayahku ketika Sekolah Rakyat dasawarsa silam. Ada dua alasan mengapa aku memilih mondok di Benteng. Pertama, di sana tempat kerabat keluargaku berkumpul. Jadi, aku takkan menjadi orang asing di sana. Bila ada masalah, misalnya uang kiriman terlambat datang, aku b isa pinjam uang pada mereka. Kedua, kebetulan saat itu sepupuku Ishak akan menikah, sehingga Ayahku sambil menghadiri acara pernikahan itu, sekaligus ia mendaftarkanku. Ibaratnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampai. Usai acara pernikahan Bang Ishak, aku belum juga mendaftar, meski sebenarnya aku sudah mendesak Ayah untuk mendaftarkanku di pesantern itu. Aku ingin cepat diakui sebagai santri. Bagiku menyandang gelar santri adalah sebuah prestasi, apalagi kalau masyarakat di kampungku mengetahuinya , mereka pasti kagum, sebab belum ada satu pun penduduknya yang pernah mencicipi pendidikan di pesantern. Orang-orang di kampungku, menganggap santri itu sakti, jenius, dan orang pilihan. Tak sembarang orang bisa jadi santri. Sebab itu, ketika mereka mendengar kata santri mereka akan menunduk takzim. Ini kenyataan, di tempat kami, ketika perayaan hari-hari besar Islam, takmir mesjid selalu mengundang penceramah dari pesantren An Najiyah dari Tembilahan. Kalau Kiainya tidak datang, maka santri seniornya yang menggantikan. Aku takjub bukan main, ketika Ustadz Anshor, itulah nama santri senior itu yang bercakap-cakap dalam bahasa Arab bersama kawannya seketika pulang dari acara kami. Sejak hari itu, terpancanglah di benakku untuk menjadi santri setelah lulus Tsanawiyah. Pagi itu, 10 Juli 2000, Abang sepupuku Ismail, adik kandung Bang Ishak memanggilku untuk melihat sesuatu di kamarnya. Tanpa pikir panjang aku memenuhi permintaannya. Alangkah kagetnya aku mendapati kamar itu penuh dengan kalender pesantern Wali Songo. Berderet-deret dari tahun 1997 sampai tahun 2000. Aku meraihnya satu per satu. Membukanya lembar per lembar sambil memandangi setiap gambar yang terpampang di cetakan kalender itu. Amboi, elok bukan main, santri di pesantern itu bercakap dalam dua bahasa asing, Arab dan Inggris setiap hari. Bukankah ini impianku sejak lama? Aku membatin. Bang Ismail memandangiku dengan senyum penuh arti manakala aku membolak-balik kalender itu. |
|
Last Updated on Thursday, 09 April 2009 16:32 |
|
Read more...
|
|
|
|